loading…
Presiden Rusia Vladimir Putin dan Perdana Menteri India Narendra Modi duduk di dalam sebuah limusin setelah tiba di Pangkalan Udara Palam di New Delhi, India, pada Kamis, 4 Desember 2025. FOTO/AP
JAKARTA – Negara-negara anggota BRICS terus memperkuat langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS dengan mengintensifkan penggunaan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan. Inisiatif ini mendapatkan momentum nyata dalam hubungan bilateral Rusia dan India, yang kini mencapai kemajuan signifikan. Kunjungan kenegaraan Presiden Rusia Vladimir Putin ke New Delhi selama dua hari menjadi wadah peninjauan dan penguatan berbagai kerja sama dagang bilateral. Kunjungan ini juga menegaskan posisi bersama kedua negara dalam mendorong sistem pembayaran alternatif yang tidak bergantung pada mata uang Amerika Serikat tersebut.
Putin mengonfirmasi kemajuan tersebut. “Rusia dan India telah menyelesaikan sekitar 90% perdagangan bilateral menggunakan mata uang masing-masing, yakni rubel dan rupee,” ujarnya di New Delhi, dikutip dari sumber. Pencapaian ini secara nyata mendesak porsi penggunaan dolar AS dalam transaksi lintas batas kedua negara. Meskipun wacana mata uang bersama BRICS belum terwujud, mekanisme pembayaran langsung dengan mata uang lokal telah berjalan di berbagai transaksi antaranggota.
Fenomena ini merupakan bagian dari upaya kolektif untuk menciptakan tatanan finansial global yang lebih multipolar dan perlahan-lahan mengurangi dominasi mata uang Barat. Dorongan untuk meninggalkan dolar AS semakin menguat di kalangan negara berkembang, terutama sejak era kepemimpinan Donald Trump di Amerika Serikat. Kebijakan tarif dan perang dagang yang diinisiasi Washington dinilai mengganggu arus perdagangan global, memicu kenaikan harga barang impor, dan mendorong negara-negara seperti anggota BRICS untuk memperkuat solidaritas ekonomi.
Perkembangan Kerja Sama Ekonomi Antara Rusia dan India
Rusia dan India telah lama menjalin hubungan perdagangan yang kuat, namun saat ini terlihat adanya perubahan signifikan dalam cara kedua negara melakukan transaksi. Dengan semakin banyaknya transaksi yang dilakukan menggunakan mata uang lokal, kedua negara berupaya mengurangi ketergantungan pada mata uang asing, terutama dolar AS. Hal ini mencerminkan keinginan untuk menciptakan sistem ekonomi yang lebih adil dan berkelanjutan.
Kunjungan kenegaraan Putin ke India menjadi momentum penting bagi penguatan hubungan bilateral. Berbagai kesepakatan baru ditegaskan selama kunjungan tersebut, mencakup sektor energi, teknologi, dan pertahanan. Ini menunjukkan bahwa kedua negara tidak hanya fokus pada aspek perdagangan, tetapi juga pada kolaborasi di berbagai bidang strategis yang dapat meningkatkan kemandirian ekonomi masing-masing.
Indonesia, sebagai negara yang juga menjadi anggota BRICS, dapat mengambil pelajaran penting dari kemitraan ini. Diversifikasi mata uang dalam transaksi perdagangan internasional dapat menjadi langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan pada mata uang tunggal yang selama ini mendominasi. Pengalaman Rusia dan India dapat memberikan inspirasi bagi negara-negara lain dalam menciptakan alternatif finansial yang lebih berkelanjutan.
Dampak Negatif Perang Dagang dan Kebijakan Tarif Global
Pertikaian dagang yang terjadi di tingkat global, khususnya antara Amerika Serikat dan negara-negara lain, telah menciptakan ketidakpastian di pasar internasional. Kebijakan tarif tinggi yang diterapkan oleh Washington dinilai merugikan banyak negara, termasuk mitra dagang AS. Akibatnya, negara-negara seperti Rusia dan India berusaha memperkuat kerja sama untuk menghadapi tantangan ini.
Ketidakpastian tersebut mendorong negara-negara berkembang untuk mencari solusi melalui kerjasama regional. Upaya untuk meminimalisir penggunaan dolar AS dalam perdagangan menjadi salah satu tujuan utama. Hal ini penting agar negara-negara ini dapat melindungi perekonomian mereka dari pengaruh negatif kebijakan luar negeri yang sering kali tidak stabil.
Dalam jangka panjang, transisi menuju penggunaan mata uang lokal dapat membantu negara-negara ini mengurangi dampak negatif dari fluktuasi nilai tukar dan intervensi dari mata uang asing. Dengan memperkuat kerjasama satu sama lain, mereka tidak hanya menciptakan stabilitas ekonomi, tetapi juga memperkuat posisi mereka di panggung global.
Implikasi Terhadap Sistem Keuangan Global yang Lebih Luas
Pergerakan negara-negara BRICS untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS membawa implikasi signifikan bagi sistem keuangan global. Jika tren ini terus berlanjut, kemungkinan munculnya sistem moneter alternatif yang lebih beragam menjadi semakin nyata. Hal ini dapat mengarah pada perubahan besar dalam arsitektur keuangan internasional yang berlaku saat ini.
Alternatif mata uang dalam perdagangan internasional bukan hanya akan menguntungkan negara-negara anggota BRICS, tetapi juga dapat membuka peluang bagi negara lain di seluruh dunia. Dengan menciptakan lebih banyak opsi dalam mata uang yang dapat digunakan untuk transaksi, hal ini dapat meningkatkan stabilitas finansial dan mengurangi risiko yang dihadapi oleh negara-negara berkembang.
Selanjutnya, kehadiran sistem keuangan yang lebih plural dapat menantang dominasi dolar AS, yang selama ini menjadi mata uang cadangan utama. Ini memberikan harapan bagi banyak negara untuk memilki lebih banyak kontrol atas perekonomian mereka dan menekan pengaruh besar yang telah lama dimiliki oleh satu mata uang.
