PT Pertamina (Persero) menunjukkan komitmennya dalam menjaga ketersediaan energi di tengah situasi darurat yang diakibatkan oleh banjir dan tanah longsor di beberapa provinsi di Sumatera. Keberadaan pasokan energi yang konsisten sangat penting untuk mendukung aktivitas masyarakat dan penyelamatan di daerah yang terisolasi.
Rangkuman situasi ini berpusat di tiga provinsi, yaitu Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Kunjungan kerja yang diadakan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, bersama Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, pada awal Desember 2025 menegaskan pentingnya respons cepat terhadap bencana.
Pertamina membuka posko bantuan dan meninjau infrastruktur untuk memastikan bahwa distribusi Bahan Bakar Minyak (BBM) dan Liquefied Petroleum Gas (LPG) terus berjalan dengan baik. Keduanya mengecek berbagai titik pengungsian dan memastikan bahwa bantuan yang diperlukan dapat sampai ke masyarakat yang terdesak oleh bencana.
Respons Cepat Percuma Tanpa Akses Jalan yang Memadai
Menteri Bahlil Lahadalia mengungkapkan tantangan yang dihadapi dalam mendistribusikan energi di wilayah yang terkena dampak. Meskipun stok BBM dan LPG mencukupi, akses jalan yang terputus menjadi masalah utama dalam proses distribusi tersebut.
Di beberapa lokasi, mobilisasi pasokan harus dilakukan menggunakan pesawat atau rakit, terutama di daerah-daerah sulit dijangkau seperti Bireuen di Aceh. Hal ini merupakan langkah alternatif untuk memastikan kebutuhan energi dapat terpenuhi meskipun situasi sangat tidak menentu.
Bahlil menekankan pentingnya koordinasi dalam penanganan bencana ini. Bersama Pertamina, mereka berupaya agar setiap SPBU di daerah terdampak tetap beroperasi, bahkan melayani 24 jam penuh agar kebutuhan energi masyarakat tetap terjaga di tengah krisis.
Inisiatif Lain untuk Memastikan Ketersediaan Energi di Daerah Terisolasi
Kementerian ESDM dan Pertamina merancang strategi alternatif untuk mengatasi kendala mobilitas. Distribusi BBM dan LPG dialihkan melalui jalur laut dan udara sebagai langkah cepat untuk menghindari penundaan pengiriman.
Selain itu, instruksi untuk memperpanjang jam layanan SPBU di wilayah terdampak menjadi sangat krusial. Ini dimaksudkan untuk mendukung operasi penyelamatan, pergerakan alat berat, dan pengiriman ambulans yang dibutuhkan untuk penanganan darurat.
Situasi ini menunjukkan betapa pentingnya respons cepat dan kreatif dalam menghadapi bencana alam. Kombinasi antara langkah-langkah inovatif dan penanganan yang terkoordinasi memungkinkan pasokan energi tetap terjaga meski dalam kondisi sulit.
Peran Masyarakat dalam Mendukung Proses Penanganan Bencana
Partisipasi masyarakat dalam situasi darurat juga sangat berpengaruh. Kesadaran akan kondisi sekitar dan kesiapan untuk membantu sesama menjadi kunci dalam penanganan masalah yang dihadapi.
Dengan adanya posko bantuan, banyak relawan lokal yang terlibat untuk membantu distribusi serta memberikan informasi kepada warga yang membutuhkan. Keterlibatan ini menunjukkan betapa solidnya dukungan komunitas dalam menghadapi bencana.
Strategi komunikasi yang baik antara pemerintah, Pertamina, dan masyarakat menjadi penting untuk melancarkan setiap langkah yang diambil. Informasi yang tepat waktu dan akurat membantu semua pihak memahami situasi dan posko yang bisa diakses.
